Saya Berdiri Di Sisi Indonesia

0

* Photo by Wasis Pramono

Waktu saya kecil, saya dan kakak saya pernah berantem.

Lagian namanya kakak- adik, dua- duanya sama- sama cowok, kalo nggak berantem itu nggak afdol namanya. Mulai dari berantem mulut, sampai berantem fisik, sampai tukar- tukaran tinju dan tendangan putar, semua ada. Gimana nggak, saya Karate, kakak saya Taekwondo. Jadi kalau berantem kesannya lagi turnamen UFC, sampe tetangga saya bingung mau melerai, atau ngambil pop corn, atau narik bayaran tiket se RT buat ikutan nonton.

Tapi masalah muncul ketika kita berantemnya kelewatan, sampai menyebabkan kerusakan di rumah sana sini. Rumah yang tertata rapih jadi acak- acakan, yang lagi diperbaiki jadi kembali rusak, dan bagian halaman yang lagi dibangun jadi pecah berantakan.

Saat ini terjadi, yang rugi bukan hanya saya, bukan hanya kakak saya. Tapi SELURUH penghuni rumah rugi!

Sekarang bayangkan saja nih, bagaimana kalau kita berantemnya lebih jauh, pakai nyari- nyari teman segala. Dia ngumpulin gengnya, dan saya ngumpulin geng saya. Yang nggak mau ngebela saya, saya anggap musuh. Yang nggak mau ngebela kakak saya, dia anggap musuh. Akibatnya? Satu RT dan teman- teman di tetangga- tetangga kita, kalau perlu kita paksa untuk memilih pihak.

Lebih jauh lagi, bayangkan kalau kita kemudian sibuk saling cari kelemahan lawan, dan ngelek- jelekin, dan kita aduin ke orang tua kita. Apa yang bisa terjadi?

Orang tua saya bisa membenarkan saya, dan kakak saya akan dendam.

Atau orang tua saya bisa membenarkan kakak saya, dan sayalah yang akan dendam.

Semakin ini dibiarkan berlarut- larut, ujungnya bisa- bisa adalah Perang Saudara.

Dan apa akibat perang saudara? Kehancuran total.

Baca Juga  Naskah "Ini Cara Gue" Selesai

Siapa yang menang? Nggak ada.

Siapa yang kalah? Semua yang tinggal di rumah itu.

Pada saat rumahnya hancur, apa masih penting siapa yang menang dan siapa yang kalah?

 

Tahun ini adalah tahun luar biasa untuk rumahku yang bernama Indonesia.

Saat ini, kita semua lagi memilih pemimpin, yang luar biasanya, kali ini hanya ada dua calon. Ini adalah kemajuan yang luar biasa! Tapi pada saat yang sama, cuma adanya dua calon ini nampaknya memunculkan fanatisme yang cukup dahsyat. Yang berkembang sampai ke kampanye hitam, dan saling menjelek- jelekan dari, dan kedua kubu.

Bahkan bukan hanya tim suksesnya, pendukungnya pun mulai melakukan hal yang sama. Mereka mulai bersikap seperti saya dan kakak saya yang sedang berantem tadi. Bahkan kadang- kadang pendukungnya lebih ekstrim daripada kubunya sendiri.

Saya sih nggak ada masalah dengan itu, namanya saudara, sekali- sekali bertikai itu WAJAR kok.

Cuma kali ini, saya hanya ingin MENGINGATKAN untuk mereka yang barangkali lupa, bahwa kita semua satu bangsa.

Bahwa kita semua tinggal di RUMAH yang sama.

Dan bahwa setelah pemilihan ini selesai, kita akan berdiri bersama lagi untuk membangun rumah ini, APAPUN hasilnya.

Mari kita berdiri UNTUK INDONESIA!

Dukung pilihan kita dengan semangat POSITIF, hati bersih, dan pikiran yang lurus.

Jangan jadikan ajang ini sebagai ajang SARA, ajang fitnah, ajang menghancurkan saudara, dan ajang merasa paling benar tanpa memikirkan akibatnya. Be smart, be subtle. Jangan jadikan moment ini sebagai moment yang BISA, dan mungkin akan MEMECAHKAN BANGSA.

Kita masih hidup di RUMAH ini bung, dan saya masih CINTA dengan rumah saya ini!

Keutuhan RUMAH ini ke depannya, masih lebih penting untuk saya!

Baca Juga  Nyalakan Lilinmu Untuk Bangsa

Bagaimana dengan Anda?


Share.

About Author

Passion Coach | Penulis Buku National Best Seller "Passion!", "Lakukan Dengan Hati", dan "Ini Cara Gue". Anggota International Coach Federation, Certified Practitioner MBTI dan SII Asia Pacific, dan CEO dari Inspira Asia.

Mau Tips Jitu untuk Karir dan Bisnis?

Dapatkan ebook gratis, artikel, tips, dan cara- cara membangun karir sukses sesuai Passion Anda, langsung ke email Anda!

Informasi ini tidak akan diberikan untuk pihak lain manapun