Ruginya Mengambil Jalan Pintas

Jalan Pintas Dalam Pekerjaan

Jalan pintas kadang- kadang bisa jadi pilihan yang baik. Tapi sering juga, yang namanya jalan pintas justru bisa bikin rugi, dan bikin kita kehilangan banyak hal kita butuhkan atau bisa kita nikmati dalam menuju tujuan kita, apalagi kalau kita menjalani hidup dalam konsep ‘balapan’.

Layaknya formula kisah- kisah horror standard Hollywood, kisah ini tentang 5 orang anak muda, blogger, yang memutuskan untuk melewati liburan sekolah dengan mengunjungi sebuah Villa (atau kalau dalam bahasa mang- mang di Puncak, “Pila”. Pila pak? Pila pak? Pila pila pilaaa!) milik salah paman salah satu dari mereka di puncak sebuah bukit.

Tenang, ini bukan kisah horror beneran. Nggak akan ada kuntilanak yang mendadak sobatan sama tukang sate, pocong yang jualan bantal guling, atau kolor ijo yang nguber- nguber wanita jomblo untuk ngajak berenang di Pila.

Nah, untuk sampai di villa tujuan mereka tadi, mereka harus mendaki bukit ini lewat jalan setapak yang berputar- putar mengelilingi bukit. Sambil berjalan dan mendaki, dua orang dari kelima anak ini mulai nggak sabar melihat jalan yang panjang dan lamaaaa, dan merasa perlu untuk SECEPATNYA sampai di villa tujuan.

Ibarat gangster yang lagi bikin rencana ilegal, mereka berbisik- bisik, celingak celinguk, duduk sejenak, membuka peta, dan menemukan sebuah jalan pintas lewat tengah hutan, dimana mereka bisa memotong jalan, kalau mereka memotong pagar kawat dan memberikan sogokan sama satpam yang menjaga gerbangnya.

So dengan tekad mendahului temannya, dan sampai duluan di villa itu, mereka pun ngomong sama temannya untuk memisahkan diri, dan memotong jalan menuju puncak. Jalan pintas ini sebenarnya jauuuh lebih terjal, lebih berat, dan lebih gelap dari jalan utama tadi. Bahkan, jalan ini pun ilegal untuk dilalui. Tapi demi sampai duluan, mereka nekat. Dengan berteriak “Cayoooooo Brrrayyy!’ ibarat presenter salah satu TV Swasta, mereka berlari melewati jalan pintas ini.

Berhasil!

Mereka sampai jauuuuh sebelum teman- temannya. Dengan napas ngos- ngosan, muka banjir keringat yang mengalir ibarat air terjun Niagara, dan ketek yang aromanya mengalahkan koalisi Pete, Jengkol, dan sahabat- sahabatnya, mereka langsung pasang posisi ala superhero, mau pamer dan nyombong.

Ditunggu, kok temannya nggak datang- datang. Sejam. Dua jam. Tiga jam… masih belum datang. Sambil nunggu teman- temannya, mereka berdua terus digigitin nyamuk dan berbagai serangga lainnya sampai kulit mereka memerah.”

Ternyata teman- temannya baru tiba 4 jam kemudian. Jauh lebih lama!

Sambil langsung pasang cengiran lebar dengan rasa pamer dan aura belagu, kedua anak ini langsung memamerkan keberhasilannya sampai duluan di tujuan.

“Baruuu datang sekaraaaang?” Kata anak pertama nyolot.

“Buseeeet, kita udah dari empat jam lalu!” Kata anak kedua ikutan nyombong.

“Iya niiih”, kata teman- temannya, “Panjang banget jalannya”

“Hahahahaha!” dua anak ini mulai ketawa merasa menang.

“Tapi kita dapat banyak foto pemandangan bagussss, ada air terjun kecil bagus banget!”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest

Mau Tips Jitu untuk Karir dan Bisnis?

Dapatkan ebook gratis, artikel, tips, dan cara- cara membangun karir sukses sesuai Passion Anda, langsung ke email Anda!

Informasi ini tidak akan diberikan untuk pihak lain manapun