Rantai Abadi si Burung Nuri

Di rumah saudara saya ada seekor burung Nuri yang sudah lumayan tua. Kandangnya ditaruh di halaman belakang, persis di sebelah pintu dapur.

Berhubung saya orangnya adalah spesies ‘super omnivora’, saya memakan semua hal. Dari makan tahu goreng, sampai makan teman. Jadi saya sering banget nongkrong atau bolak balik ke dapur. Seperti Belanda yang dulu doyan bolak balik ke Indonesia, dapur adalah area jajahan saya.

Jadi seringlah saya bertatap mata romantis dengan si burung Nuri tadi.

Pertama saya ngeliat dia, ni burung malah balik ngeliat saya. Saya pikir dia nantang adu tatapan, jadi saya layanin. So pasti saya kalah, karena dia seakan nggak bisa ngedip. Lalu mungkin merasa menang, si burung Nuri ini goyang- goyang badan ke kiri dan ke kanan. Persis kayak si penyanyi Gangnam Style dari Korea itu.

Saat ini saya menyadari, kalau ada yang aneh dari si burung ini. Gerakannya sepertinya SANGAT terbatas. Dia sepertinya hanya bergerak di area tertentu dari kandangnya saja. Jadi dia cuma bergerak atau menggoyangkan badan kiri kanan kiri kanan, dan sama sekali nggak berjalan ke tempat lain, atau meloncat ke dahan yang ada di atas kepalanya, ataupun bersalto di udara merayakan kemenangannya.

Jadi saya bergerak ke sisi lain kandangnya, memanggil si burung Nuri untuk mendekat dan bergerak dari tempat berdirinya. Tidak berhasil. Dia cuma bengong ngeliatin saya seakan saya tontonan dalam kandang, dan tetap berdiri di tempatnya. Nyuekin saya sebagaimana saya suka nyuekin pengamen di luar kaca mobil saya.

Jadi saya iseng, mencoba ngasih makanan pada si burung Nuri di sisi lain kandang yang nggak pernah dia dekati itu.

Si burung Nuri ngeliat makanan di tangan saya, dan dengan wajah penuh napsu, dia teriak- teriak KAOOK KAOOK!

…Tapi dia tetap nggak beranjak dari tempat berdirinya semula.

“Nggak bakal gerak dia Ded”, kata saudara saya.

“Lho, emang kenapa?”

“Dari bayi, kaki burung ini dirantai nempel ke pinggir kandang. Rantai itu nggak pernah dilepas sampai beberapa bulan yang lalu, waktu dia udah tua”.

“Oooh, emang luka atau patah gitu?”

“Dibilang luka, iya juga sih. Memang ada luka gara- gara rantai itu di kakinya yang bikin dia susah jalan…”

2 thoughts on “Rantai Abadi si Burung Nuri”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest

Mau Tips Jitu untuk Karir dan Bisnis?

Dapatkan ebook gratis, artikel, tips, dan cara- cara membangun karir sukses sesuai Passion Anda, langsung ke email Anda!

Informasi ini tidak akan diberikan untuk pihak lain manapun