Menentukan Yang ‘PENTING’

Apa Yang Penting Untuk Sukses

Kaos oblong nyaris bolong, blue jeans item yang belel keputihan, sandal gunung yang nggak pernah ngeliat gunung, dan tas kecil item pernak pernik cantik yang macho. Semuanya serba kontradiktif. Dan kalau saya lagi pake setelan ‘masa bodo’ begini, berarti ini waktu santai saya.

Beberapa saat lalu, dengan setelan favorit santai saya ini, saya duduk ‘hangout’, atau kalau dibahasa- Indonesiakan, ‘tergantung diluar’ (hang= gantung, out=luar). “Mau jalan- jalan?” “Hangout ujan atau nggak” kata teman saya, maksudnya “Tergantung di luar ujan atau nggak”. Pemerkosaan brutal terhadap bahasa.
Anyway, waktu itu saya lagi duduk di sebuah cafe, yang entah kenapa kalau nulis nama pelanggan hampir selalu salah.

Dedy, ditulisnya “Didi”. Thoriq, ditulisnya “Kolik”. Jodi, ditulisnya “Joni”. “Pake ‘D’ mbak, pake ‘D’”, ralat Jodi, “Ooooh ok”, lalu diralat sama mbaknya dan ditulis “Jonid”.

Dan pada saat itu, sambil menikmati slow day saya di weekday, di hari di mana semua orang lain lagi hectic kerja, saya jadi teringat kembali, bahwa hari- hari yang kita jalani, sebenarnya seringkali merupakan CERMINAN langsung dari apa yang kita anggap PENTING dalam hidup kita.

Apa yang kita anggap PENTING, adalah yang menjadi hal dominan dalam keseharian kita.
Apa yang kita anggap PENTING, bakal menentukan apa yang kita PILIH.
Apa yang kita anggap PENTING, seringkali menentukan apa yang berhasil kita CAPAI (dan tidak capai)!

Misalnya buat saya, kebebasan waktu itu PENTING. Pantat saya sensitif dan gampang ‘ba’al’ kalau duduk 9 to 5. Jadi saya nggak perduli walau musti bekerja pada saat orang libur, atau pacaran sampai jam 12 malam sama laptop, atau jadi bocah petualang dan kerja dari kota ke kota tiap minggu tanpa ngeliat muka istri, dan nyanyiin lagu “aku sedih duduk sendiri” di- house remix sama lagu “Home”- nya Buble hingga dua hari sebelum lebaran (seperti yang terjadi di lebaran kemarin). Yang PENTING, saya nggak terikat waktu kerja 9 to 5.

Buat Fedi, saudara saya, waktu weekend mangku anak itu PENTING. Dia masa bodo sebodo- bodonya atas sekeras apa dia di- rodi oleh bosnya selama 9 to 5, atau dikeramasin bosnya dengan hujan ‘cuah- cuah’ di hari kerja. Tapi dia PANTANG kehilangan waktu mangku anaknya. Dan bila bosnya mengganggu waktu weekend ini, dia nggak ragu untuk ngebales ‘ngecuah- cuah’ bosnya soal hal ini.

Buat Adi teman saya, income duit itu yang paling PENTING. Dia nggak perduli soal enjoy nggaknya dia dalam suatu profesi, dia nggak perduli kalau harus kerja 24 jam x 7 hari, dia bahkan nggak perduli sama hobinya yang karena saking lamanya nggak dikunjungi, sudah berdebu, dan berjaring laba- laba segala. Dia pekerja keras yang mengukur kesuksesannya dari nilai income, dan dia memang mendapatkan itu!
Ternyata memang kita selalu bisa menemukan, atau malah menciptakan waktu untuk menjalani apa yang kita anggap PENTING!

Orang yang menganggap Passion- nya PENTING, dijamin bakal punya waktu buat Passion- nya.
Orang yang menganggap maen game itu PENTING bakal selalu punya waktu untuk selalu maen game.
Orang yang menganggap kumpul- kumpul itu penting bakal punya waktu buat selalu kumpul- kumpul.
Orang yang menganggap kesuksesan finansial itu penting bakal selalu lebih gigih mengejar pendapatan finansial.

Jadi in a way, bisa dibilang, walau kita mungkin tidak selalu mendapat yang kita MAU pada saat ini, tapi – walau banyak orang yang nggak sadar – kita SELALU menjalani apa yang kita anggap PENTING dalam hidup!
Saya ulangi, kita selalu MENJALANI apa yang kita anggap PENTING dalam hidup!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest

Mau Tips Jitu untuk Karir dan Bisnis?

Dapatkan ebook gratis, artikel, tips, dan cara- cara membangun karir sukses sesuai Passion Anda, langsung ke email Anda!

Informasi ini tidak akan diberikan untuk pihak lain manapun