Kutu Loncat Yang Kaya Dan Bahagia

3

Alkisah menurut kisah ini, di zaman dulu yang nggak terlalu dulu, di dunia hewan yang nggak terlalu hewan juga (soalnya nggak jauh berbeda dengan dunia manusia), hiduplah seekor kutu. Kutu ini nggak sendirian. Dia hidup bersama kutu- kutu lainnya, mama kutu, papa kutu, tante kutu, sepupu kutu, dan sejumlah besar para sahabat kutu.

Si kutu ini bersama para sahabatnya hidup dengan menempel di badan seekor kucing. Hidup dan bertahan hidup dengan mencari nafkah dari tubuh si kucing. Dan karena itu, diapun disebut ‘kutu kucing’. Di tubuh kucing ini ada jenjang karir yang jelas, yaitu para kutu kucing harus mulai dari buntut, area yang nggak terlalu menyenangkan, dekat dengan lubang pembuangan yang terkadang mengeluarkan gas yang baunya amit- amit.

Katanya, setiap beberapa tahun, para kutu yang berpotensi akan mengalami peningkatan karir, dari buntut ke pinggang, lalu naik ke punggung, lalu naik ke bahu, dan bila beruntung, akan naik ke kepala. Itulah puncak karir buat seekor kutu kucing. Nggak semua kutu bisa mencapai posisi ini, dan yang berhasil mencapai posisi ini pun hanya kutu- kutu tua, yang sudah berpuluhan tahun menjadi kutu kucing.

Tapi paling nggak, jadi kutu kucing ini ‘amannn’, “Ada dana pensiunnya kalu udah tua nanti”, kata mereka.

Seekor kutu merasa nggak nyaman dengan posisinya di dekat buntut. Dan dia nggak mau menunggu bertahun- tahun untuk mencapai posisi bahu atau kepala, apalagi nunggu tua cuma buat dana pensiun. Jadi dia mulai melakukan riset tentang dirinya dan potensi masa depannya. Dia menemukan kelebihannya, dan dia menyadari dia akan lebih bisa berkembang bila dia ada di badan seekor anjing.

Seluruh keluarga dan sahabat kutunya nggak pernah menjadi kutu anjing, jadi merekapun berusaha menahannya. “Apaan sih brayy”, kata seekor kutu sahabatnya meniru sapaan presenter sebuah TV Kutu 7, “Kita tu kutu kucing, dari lahir sampe mati harus jadi kutu kucing. Ngapain kamu mau ke anjing segala ciiiinn’?”

Tapi si kutu sudah berbulat hati, jadi begitu ada seekor anjing lewat di dekat kucing yang menjadi tempat tinggalnya, si kutu pun meloncat sekuat tenaga, HAP! Dan mendarat di badan anjing tersebut.

Kini dia resmi menjadi ‘kutu anjing’. Para sahabatnya yang masih tinggal di badan kucing cuma bisa memandang sambil mencemooh, “Cih, semangat juangnya untuk jadi kutu kucing kurang nih! Ngebangun karir itu harus loyaaaal!” teriak mereka.

Baca Juga  Naskah "Ini Cara Gue" Selesai

Sebenarnya sebagai kutu anjing, dia juga harus memulai karirnya di daerah dekat buntut. Tapi, karena badan anjing yang lebih besar, si kutu mendapatkan pendapatan yang lebih besar daripada waktu dia ada di buntut kucing. Jadi untuk sementara dia puas! Kepuasan ini cukup untuk menahannya di badan anjing selama beberapa tahun, hingga dia naik pangkat ke lokasi di pinggang anjing.

Setelah itu, diapun mulai merasa tidak nyaman. Dia mulai dijegal dan ditahan- tahan oleh kutu atasannya, sehingga dia sulit menjadi kutu punggung. Keberadaannya di badan anjing mulai menahan laju gerak dan pertumbuhan dirinya. Dia tahu, kalau dia tetap disini, dia akan tertahan di pinggang selamanya. “Sabarlah”, kata seekor kutu senior, “Kalo kamu mau ngebangun karir, harus setia pada satu hewan, anjing ya anjing”, katanya lagi.

Tapi pada saat itu, si kutu sudah mendapat tawaran lebih baik untuk menjadi ‘kutu sapi’. Berkat pengalamannya sebagai kutu anjing di area pinggang, dia ditawarkan untuk langsung menjadi kutu punggung di sapi tersebut. Tanpa menghiraukan usaha teman- temannya yang mencoba menahannya demi ‘keamanan karir’ masa depan, si kutupun pindah ke sapi. HAP!

Sekarang, para kutu kucing mantan sahabatnya DAN para kutu anjing yang ditinggalkannya, mencemoohnya dengan keras. “Huuuuu, dasar kutu loncat!” Mereka memakai istilah ‘kutu loncat’ sebagai hinaan yang merendahkan.

Di punggung sapi, si kutu mendapat pendapatan yang lebih besar lagi! Dan dia bekerja di situ selama beberapa tahun. Tapi kemudian dia menyadari, dia tidak SUKA menjadi kutu sapi yang gendut dan jalannya lamban. Dia ingin menjadi seekor ‘kutu kuda’ yang gagah dan berlari menderap dengan mantapnya. Tapi satu- satunya cara dia bisa menjadi kutu kuda adalah bila dia lebih dulu menjadi kutu keledai, yang sebenarnya lebih rendah dari menjadi kutu sapi. Bagaimana ini? Pikirnya galau dan ragu. Dia bahkan sempat ngetweet “Galau”, dengan KutuPhone nya.

Tapi karena keputusannya makin lama makin bulat, diapun segera loncat lagi, HAP menjadi ‘kutu keledai’.

Kutu kucing, kutu anjing, DAN kutu sapi yang tidak mau mengikutinya, kini semuanya kompak menghinanya. Para kutu memang paling hobi dan paling kompak kalau dalam urusan menghina dan menghakimi orang lain. “Huuuu, dasar kutu loncat!” Dan mereka menertawakan karirnya yang justru menurun dari sapi ke keledai, “Hahahahah! Dasar begooooo! Udah padahal diem aja di satu tempat sampai tua kayak kita laaaah!”

Baca Juga  6 Cara Saya Menikmati Rutinitas

Selama beberapa tahun ke depan, si kutu tertahan di keledai. Kesempatan yang ditunggunya tak kunjung datang, dan si kuda tidak kunjung mendekat. Saat ini dia mulai ragu, apakah menjadi seekor ‘kutu loncat’ benar- benar adalah keputusan yang salah? Apakah dia seharusnya tinggal di sapi, menjadi kutu sapi sampai mati? Ah tidak! Dia yakin kesempatan akan datang.

Akhirnya pada suatu hari, keledai tadi dibawa oleh peternak pemiliknya ke pasar, bersama- sama dengan sang kuda! Kesempatan yang ditunggunya telah tiba! HAP! Dengan satu loncatan kuat, dia berpindah ke kuda!

Kini, setekah bertahun- tahun menempuh resiko dengan menjadi kutu loncat, dia menjadi seekor ‘kutu kuda’! Sesuatu yang diimpikannya, dengan pendapatan yang sangat besar, dan sesuai dengan passionnya. Dan berkat semua pengalamannya di hewan- hewan sebelumnya, ia mampu naik menjadi seekor kutu kepala di kuda tadi! Dia pun duduk dengan gagahnya di kepala kuda, saat sang kuda berlari dengan surai berkibar di tengah angin dengan langkah menderap yang mantap.

Pada saat ini, kutu- kutu yang dari tadi selalu menghinanya tidak bisa mengatakan apa- apa. Mau bilang apa lagi? Dia kini sudah menjadi seekor ‘kutu loncat’ yang kaya dan bahagia! Sementara mereka, well, mereka masih tertahan rasa takut mereka di pinggang dan punggung kucing… mungkin selamanya.

Sang kutu loncat pun menuliskan catatan untuk teman- teman kutunya yang lain, dengan harapan semoga catatan ini bisa membantu mereka membangun karir mereka, sebagaimana dia telah membangun karir untuk dirinya sendiri.

Kutu Loncat vs Kutu Kucing

“Para kutu sahabatku, karir itu bukan ditentukan oleh hewan tempatmu tinggal. Karir itu ditentukan oleh dirimu sendiri. Kemanapun kamu meloncat, kamu membangun karirmu. Apakah salah untuk berpindah dari satu hewan ke hewan lainnya bila memang perpindahan itu membawa manfaat lebih baik? Sesungguhnya tangga karir itu tidak harus ada dalam satu hewan, tapi bisa dibangun dengan meloncat cross- hewan, selama terus membentuk tangga ke atas.”

Catatan ini ditutup dengan tulisan yang berbunyi,

“Karirmu adalah dirimu, dan bukan hewan tempatmu berada, ikuti kata hatimu!”


Share.

About Author

Passion Coach | Penulis Buku National Best Seller "Passion!", "Lakukan Dengan Hati", dan "Ini Cara Gue". Anggota International Coach Federation, Certified Practitioner MBTI dan SII Asia Pacific, dan CEO dari Inspira Asia.

Mau Tips Jitu untuk Karir dan Bisnis?

Dapatkan ebook gratis, artikel, tips, dan cara- cara membangun karir sukses sesuai Passion Anda, langsung ke email Anda!

Informasi ini tidak akan diberikan untuk pihak lain manapun