Kenapa Anda Harus Belajar Coaching

Belajar Coaching Indonesia

Ada perubahan dalam pilihan cara mengelola dan mengembangkan sumber daya manusia di perusahaan!

Dulu, sumber daya manusia itu seringnya cuma dipandang sebagai angka di buku gaji doang. ‘Angka’, yang kalau bisa harus ditekan serendah- rendahnya, tapi digenjot supaya bisa menghasilkan duit masuk yang sebesar- besarnya.

Cara ‘mengembangkan’ karyawan pun disamakan dengan mengembangkan mesin. Diberikan petunjuk A- Z, dan diharapkan untuk bisa perform sebaik- baiknya, dan mengejar target setinggi- tingginya. Kalau nggak bisa, jangankan diajari, dihajari juga bisa. Sampai ada istilah joke yang sadis peninggalan era itu, “Kalau nggak bisa dibina, ya dibinasakan”. Ampun mak!

Makanya nggak jarang, saat saya di-hire sebagai corporate coach untuk beberapa perusahaan yang baru mau mengubah gaya ini, saya menemukan kultur menarik yang suka mereka sebut “keramas” (yang ada di banyaaak perusahaan itu).

“Asep, lu dipanggil bos tuh.”

“Mati dahhhh, pasti gue mau dikeramasin!

“Turut berduka yah..”

Buat yang nggak ngerti, dikeramasin artinya diomelin sama bos dengan sadis, sampai ketombe- ketombe dan kutu rambut bisa ikut mati. Yahh, lumayan irit shampoo.

Tapi semakin seringnya saya dipanggil untuk memberikan sesi corporate coaching, dan makin banyaknya perusahaan besar yang memakai jasa saya untuk mengajarkan coaching dalam sesi- sesi corporate training belakangan ini, membuktikan bahwa AKHIRNYA kultur ini perlahan berubah, dan pengembangan sumber daya manusia di perusahaan- perusahaan mulai memasuki era baru, era yang LEBIH BAIK!

Dari perusahaan perkebunan yang terbiasa dengan budaya kerja ‘perbudakan ala belanda’ hingga perusahaan finansial, dan jasa telekomunikasi, semua menyadari pentingnya mempelajari dan memanggil saya untuk menerapkan budaya coaching diperusahaannya!

Dan memang seharusnya! Era sekarang sudah berubah! Di era informasi ini, setiap karyawan bisa lebih mudah menemukan dan mengembangkan pekerjaan di mana dia suka. Mereka bisa lebih mudah membangun karier antar-perusahaan, bukan lagi inter-perusahaan. Dan dengan mindset entrepreneurship, passion, dan industri kreatif, kebutuhan untuk life satisfaction dalam bekerja juga semakin besar! Kalau nggak puas, mereka bakal kerja SETENGAH HATI, atau malah langsung keluar.

Salah satu peserta training “Coaching, Mentoring, and Counseling” saya, manajer galak yang dikenal paling hobi ‘ngeramasin’ orang pada awalnya meragukan coaching, dan bilang, “Coach, kayaknya buat industri kayak kami ini, metoda ini sulit diterapkan”. Tapi setelah mengkuti training hanya selama dua hari, ia datang ke saya sambil cengengesan, “Ternyata, selama ini saya belum optimal mengembangkan tim saya”.

Nah, kalau Anda adalah individu, atau manajer perusahaan, atau mungkin malah calon entrepreneur yang ingin tahu, kenapa Anda harus belajar coaching untuk tim Anda, ini beberapa alasannya!

1. Coaching mengembangkan potensi ASLI individu.

Mentoring adalah metoda pengembangan yang sangat baik. Dan mentoring akan optimal ketika diterapkan pada mereka yang memiliki motivasi kerja tinggi, namun memiliki skill dan kompetensi rendah. Tapi mentoring akan menduplikasi skill dan batasan kompetensi mentornya, artinya, sang mentee (murid) akan menjadi copy si mentor, dan potensi asli yang berbedanya tidak akan keluar. Coaching akan mengeluarkan potensi ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest

Mau Tips Jitu untuk Karir dan Bisnis?

Dapatkan ebook gratis, artikel, tips, dan cara- cara membangun karir sukses sesuai Passion Anda, langsung ke email Anda!

Informasi ini tidak akan diberikan untuk pihak lain manapun