Jangan Ajari Generasi Kreator

0

Tiap generasi lahir di dunianya sendiri, dan tiap generasi ‘dipersenjatai’ dengan baik untuk hidup dan berkembang di dunianya itu.

Tapi bagaimana kalau dunia itu sendiri ternyata sudah berubah? Bagaimana sebuah generasi bisa terus berkembang di dunia yang ternyata sudah berbeda? Dan yang lebih penting lagi, bagaimana sebuah generasi lama bisa mengajarkan generasi baru, tentang cara menghadapi dunia baru, tentang Passion mereka di dunia baru, yang sebenarnya bukan lagi dunia ‘habitat asli’ mereka?

Kalau diibaratkan sekenanya, bagaimana seekor kucing hutan bisa mengajarkan kucing kota tentang cara hidup di kota? “Jadi gini ya ananda, kamu berburulah di padang datar mencari rusa belang kaki…” , lalu kata kucing kotanya, “Mana ada padang datar di kota? Beli aja makanan kaleng di petshop mang Ujang sebelah”. Nah kan, nggak nyambung. Jadi bagaimana?

Jawabannya, bisa jadi, justru dengan TIDAK mengajari mereka sama sekali!

Generasi saya adalah generasi video game. Angkatan saya (dan satu dua angkatan sebelum dan sesudahnya), lahir passss di mana produk yang namanya video game lahir di muka bumi. Saya tahu video game sejak mesin game jadul yang namanya Atari, lalu berkembang jadi Nintendo dan Famicom, lalu Super Nintendo, dan seterusnya. Dari gambarnya yang masih kotak- kotak gerak (yang sumpah, di mata saya sebagai anak kecil era itu dulu udah bagus banget!), sampai sekarang PS4 dan PC Gaming, yang gambarnya hampir seperti film yang nyata.

Dan tidak sekalipun saya merasa sulit mempelajari dan beradaptasi dengan semua video game itu, termasuk ketika pertama kalinya duluuu saya memegang kontrol Atari. Rasanya sudah alami saja, dan hampir seperti insting. Sementara ibu saya, waktu diajarin main Mario Bros di Nintendo saja, nggak pernah berhasil melewati satu level pun. 10 kali main, 11 kali jatuh di jurang yang sama. Ajaib.

Baca Juga  Kutu Loncat Yang Kaya Dan Bahagia

Itu karena generasi saya adalah ‘penduduk asli’ dunia video game, dan generasi ibu saya adalah ‘tamu’.

Tapi waktu berlalu, era berubah, dan teknologi ngebut berkembang dengan sangat cepat. Kini, generasi muda di bawah sayalah yang telah menjadi ‘penduduk asli’ era Teknologi Informasi ini, dan generasi saya, lambat laun mulai jadi tamu. Keponakan- keponakan saya yang kecil- kecil kadang mulai mengajari saya cara memakai aplikasi baru atau teknik baru di Smartphone!

Generasi muda, mungkin termasuk Anda yang sedang membaca artikel ini, adalah generasi berbeda sama sekali, yang tumbuh di habitat yang berbeda sama sekali dengan generasi sebelumnya. Ribuan teknologi baru, dan jutaan peluang dan kemungkinan yang dilahirkannya membuat pola pikir Anda berbeda jauh dari generasi sebelumnya!

Generasi sebelumnya kini adalah PEMAKAI, sementara generasi muda adalah KREATOR atau pencipta.

Generasi sebelumnya mengikuti tata cara dan tradisi, sementara generasi muda mempertanyakan dan menulis ulang tradisi.

Generasi sebelumnya mempelajari cara memakai, sementara generasi muda mempelajari cara membuat yang baru.

Generasi sebelumnya menanyakan “kenapa?”, sementara generasi muda menanyakan “kenapa tidak?”

Jadi seperti yang Anda lihat, ada beda yang cukup besar dalam pola pikir generasi berbeda ini! Generasi muda (Gen Y, dan sebentar lagi Gen Z) sebagai ‘penduduk asli’ era ini sebenarnya lebih SIAP untuk menghadapi dunia ini dibandingkan generasi sebelumnya.

Jadi bagaimana ‘tamu’ bisa mengajari ‘penduduk asli’?

Bagaimana kita bisa mengajari generasi kreator tentang cara menciptakan sesuatu, di dunia yang sebenarnya merupakan dunia habitat mereka? Bagaimana kita bisa mengajarkan mereka tentang menciptakan produk baru, kalau definisi ‘produk baru’ kita adalah ‘berita lama’ buat mereka?

Sang ayah baru nemu YouTube, sementara sang anak sudah jadi bintang YouTube.

Sang ibu baru belajar Twitter, sementara sang anak sudah jadi Buzzer social media.

Baca Juga  Nggak Ada Orang Yang Malas

Sang guru baru asyik membuat website pribadi, sementara sang murid sudah berjualan jasa di 99Designs.

Sekali lagi, jawabannya mungkin adalah “tidak bisa”! Kita tidak bisa (atau sebaiknya jangan) mengajarkan mereka tentang apa yang harus mereka CIPTAKAN. Karena jelas, definisi ‘kreatif’ dan ‘baru’ kita,berbeda dengan definisi mereka.

Jadi bagaimana kita membantu generasi kreator ini? Bantu mereka BUKAN dengan dengan memberitahu apa yang harus mereka ciptakan, bukan mengajarkan apa yang harus mereka jalankan, atau mendikte apa yang harus mereka pilih. Karena bisa jadi, akibatnya malah akan membawa mereka kembali ke masa lalu, masa kita, dengan pola pikir era lama, bukannya justru MAJU ke masa depan.

Bantu mereka dengan memperkenalkan mereka dengan konsep profesi dan pendapatan finansial, bantu dengan mengarahkan mereka pada peluang yang ada yang Anda ketahui serta menantang mereka menggali peluang lain yang bisa mereka temui, bawa mereka ke tempat di mana minat dan wawasan mereka bisa berkembang lebih baik, dan bantu dengan membina mereka mengembangkan potensi ASLI dirinya sendiri!

Bantu mereka bukan dengan memaksakan CARA kita, tapi dengan membantu mereka menemukan CARA mereka.

Dan bila Anda adalah bagian dari generasi kreator ini, kembangkanlah wawasan dan keberanian Anda agar tidak terjebak dengan pola pikir yang menghambat perkembangan diri Anda di dunia Anda.

Tanyakan, “Apa yang Anda miliki, inginkan, dan bisa Anda kembangkan sebagai karya Anda?”

Ikuti Passion Anda, dan kembangkan cara baru Anda!


Share.

About Author

Passion Coach | Penulis Buku National Best Seller "Passion!", "Lakukan Dengan Hati", dan "Ini Cara Gue". Anggota International Coach Federation, Certified Practitioner MBTI dan SII Asia Pacific, dan CEO dari Inspira Asia.

Mau Tips Jitu untuk Karir dan Bisnis?

Dapatkan ebook gratis, artikel, tips, dan cara- cara membangun karir sukses sesuai Passion Anda, langsung ke email Anda!

Informasi ini tidak akan diberikan untuk pihak lain manapun