6 Hal Yang Terjadi dalam Meeting Extrovert dan Introvert | MBTI

Extrovert dan Introvert dalam meeting dan rapat bersama tim dalam organisasi dan perusahaan, bagaimana MBTI mempengaruhi aktivitas dan kinerja perusahaan

Extrovert dan Introvert punya referensi gaya dan sifat masing- masing. Dan apapun pekerjaan dan passion Anda, kita nggak mungkin menghindari kegiatan yang namanya berinteraksi, berkomunikasi, dan bekerjasama dengan orang lain. Kecuali Anda tinggal di gua, dimana Anda boleh dah puas diem- dieman sama tembok.

Tiap hari, kita ketemu orang yang berbeda- beda. Dari orang- orang yang sekali liat bisa langsung sok akrab, “Yooo broooo!” dilengkapi cupika cupiki, sampai mereka yang sekali liat langsung bikin kita sebel dan bikin kita mikir, “ni orang mukanya kayak pengen ditabok banget”, semuanya ada dalam kerjaan kita.

Jadi apa dong yang terjadi saat dua gaya berbeda ini ketemu di satu meja panjang di ruang meeting? Perang dunia ala Extrovert (E)? Perang dingin ala Introvert (I)? Wiiiiih, kemungkinannya banyak banget! Moment kayak ginilah serunya memahami perbedaan preferensi antara orang yang satu dengan yang lain!

6 Hal Yang Terjadi dalam Meeting Extrovert dan Introvert

Dalam MBTI (Myers Briggs Type Indicator), Extrovert dan Introvert punya style yang berbeda dalam mendapatkan dan menggunakan energi. Ini akan kelihatan jelas dalam interaksi dan komunikasi.

Mulai dari jam berdentang ngotot untuk memulai rapat, office boy yang celingak- celinguk takut kalau ruangan masih kotor, pintu ruang rapat dibuka, sampai bunyi derit kursi yang minta ampun saat didudukin, hingga berakhirnya meeting, banyak contoh klasik perbedaan Extrovert dan Introvert yang bakal muncul ke permukaan.

1. Extrovert Akan Mendominasi Meja Rapat

Orang- orang Extrovert (E) cenderung ramai semerbak dengan suaranya, mengobrol, berbicara, masuk ke dalam ‘lampu sorot’, dan berebut ‘microphone’. Beberapa langsung duduk dan ngobrol dengan temannya dari ujung meja yang satu ke ujung meja lainnya. Sebagian tetap berdiri dan bergerak kesana sini seakan- akan nggak bisa duduk karena ambeien, dan ini bahkan sebelum rapat dimulai.

Orang- orang Introvert (I) duduk berdekatan dengan sahabatnya baik dari E ataupun I, dan sesekali terlibat obrolan tenang … hanya kalau perlu. Lalu menunggu. Kapan mulainya nih. Sesekali dia akan nimbrung obrolan teman E nya kalau dia tertarik, secukupnya. Lalu menunggu lagi. Dan mikir, “ini orang- orang nomong terus, kapan mulainya nih?”

2. Extrovert Duduk Di Tengah- Tengah Keramaian, dan Sebaliknya

Memilih tempat duduk jadi moment yang cukup jelas sejak awal. Orang- orang Extrovert sering kali secara insting akan memilih kursi- kursi yang menempatkan dia di tengah keramaian, di depan, atau di posisi dimana dia bisa menjadi pusat perhatian, dekat dengan teman, atau jauh, tapi bisa memberikan efek rame kalau dia ngobrol jauh- jauhan.

Sementara orang- orang Introvert akan memilih tempat duduk strategis. Yang bukan di tengah keramaian, bukan di pusat kegiatan, dan kalau bisa nggak nyolok. Kalau ada temannya, dia akan memilih duduk di pinggir di dekat temannya. Kalau temannya di tengah, dia barulah akan mempertimbangkan duduk di tengah. Hanya dan bila hanya, seorang Introvert menjadi pimpinan rapat (atau adalah atasan di ruangan itu), dia akan secara otomatis mengambil otorisasi di tengah ruangan.

3. Extrovert Meminta Introvert Ngomong, Lalu Memotongnya

Di tengah- tengah situasi rapat, Extrovert yang keasyikan ngomong layaknya orang kena ‘diare mulut’, bakal menyadari kalau dia ngomong terus, dan bakal mencolek Introvert yang dari tadi mendengarkan dan (menurut dia) kurang ngomong, dengan mengatakan, “Bro, Sis, dari tadi lu diem aja. Gimana pendapat lu? Ngomong doongg”.

Tapi sebelum orang Introvert sempat benar- benar selesai ngomong, orang extrovert yang sama tadi udah nyeletuk lagi memotong omongannya, “Kalo kata gue sih yaa…… bla bla bla”.

Introvert yang sempat ngomong, cenderung mengeluarkan pendapatnya dengan tajam dan terencana, alias sudah dipikirkan sebelum dia mengutarakannya, tapi ini hanya sekali- sekali, karena sibuk mengatasi Extrovert yang terus menerus ngomong tanpa mikir (menurut si Introvert tadi), melelahkan boossss.

Extrovert dan Introvert dalam meeting dan rapat bersama tim dalam organisasi dan perusahaan, bagaimana MBTI mempengaruhi aktivitas dan kinerja perusahaan

4. Menurut Introvert, Extrovert Kebanyakan Ngomong Kurang Mikir … dan Sebaliknya

Selama proses meeting ini, Extrovert dan Introvert memikirkan hal yang berbeda. Di kepala Extrovert, dia mikir “Haduh orang- orang Introvert ini kebanyakan mikir banget sih. Dieeeeem aja, ga cepet reaksinya. Lamaaaa. Nggak ada idenya nihhh”.

Sementara di kepala Introvert, cenderung pemikiran sebaliknya terjadi. “Haduuh orang- orang Extrovert iniii yaaaaaa. Ngomonggg doaaaang. Ngomong terus, ga jelas arahnya kemana, terlalu pengen action kurang plan nih… Omdo ah!”

5. Extrovert Makin Berenergi, Introvert Makin Lelah

Karena cara yang berbeda dalam mendapatkan energi, rapat fisik yang ramai, dimana semua orang mendapat kesempatan bercengkerama dan tertawa, berargumen, dan bergerak secara fisik, memberikan orang- orang ‘E ‘semakin banyak energi. Makin rame makin semangat, makin keras makin seru, makin banyak ide dilontarkan makin cemerlang gagasannya.

Sebaliknya, orang- orang ‘I’ justru sebaliknya. Mereka cenderung mendapatkan energi dari refleksi diri, pemikiran, dan privacy. Semakin rame, berisik, dan terlalu banyak orang disekitarnya, aktivitas itu makin menguras tenaga. Makin banyak orang (apalagi kalau tidak dekat dengannya secara personal), setiap interaksi aktifnya justru menguras tenaga.

Bukan berarti dia nggak mampu berinteraksi, dia bisa sama hebohnya dengan teman- teman ‘E’, tapi saat orang ‘E’ makin berenergi, dia makin terkuras.

6. Selesai Meeting Extrovert dan Introvert Meninggalkan Ruangan

… dengan kecepatan yang berbeda.

Kalau tidak terpaksa, misalnya ada pekerjaan lain atau deadline, Extrovert bakal masih belum ikhlas meninggalkan serunya ruangan, ramainya obrolan, dan interaksi fisik dengan rekannya. Dia masih duduk- duduk ngobrol, berdiri sambil tertawa keras, atau mondar mandir di luar ruangan meeting nyari kesempatan diskusi lainnya dengan orang yang kebetulan lewat.

Atau mungkin sebaliknya, dia pengen langsung action dan bergerak melaksanakan hasil meeting tadi, tanpa dipikirin atau direncanakan lebih jauh dulu.

Sebaliknya, orang- orang Introvert biasanya sudah menghilang lebih dulu dari ruangan meeting, kembali ke ruang privacy- nya. Dan bila hasil meeting tadi dianggap penting, dia sudah mulai membuat rencana dan melakukan pemikiran- pemikiran pribadi di dalam kepalanya, sebelum bergerak secara fisik untuk melaksanakannya. Plan before act!

Dan di ruangan pribadinya, dia men- charge tenaganya yang terkuras gara- gara melayani orang- orang Extrovert yang ‘berisik’ tadi. Hhhh…

Menyikapi Perbedaan Preferensi MBTI Ini

Extrovert dan Introvert bukan tentang perbedaan dalam mampu atau nggak mampu ngomong, ‘gaul’ atau nggak mampu gaul. Itu mitos yang salah banget. Extroversial dan Introversial adalah kecenderungan dan preferensi kita dalam bagaimana kita lebih cenderung memusatkan perhatian kita, dan bagaimana kita secara kognitif mengumpulkan energi.

Dalam meeting, ataupun dalam segala jenis aktivitas dan interaksi antara orang Extrovert dan Introvert, yang paling perlu dipahami adalah bahwa perbedaan ini ada. Dan saling menghargai perbedaan untuk kerjasama lebih baik. Dan kalau Anda berada di posisi pemimpin rapat atau leader organisasi, Anda bisa menggunakan pemahaman ini untuk mengeluarkan potensi terbaik setiap orang!

Misalnya dalam meeting ini, sebaiknya seorang ‘E’ lebih memberikan waktu untuk ‘I’ untuk mengeluarkan pendapatnya tanpa memotong pembicaraannya sebelum dia bahkan selesai, dan seorang ‘I’, harap memaklumi kebiasaan orang- orang ‘E’ yang berpikir dengan cara mengucapkannya, atau bahkan mengingatkan kebiasaannya untuk do before think.

Dan ini bahkan baru membahas 1 dikotomi dalam MBTI, dan belum membahas pengaruh tiga lainnya dalam situasi yang sama.

Memahami satu sama lain adalah kunci kerjasama dan mengeluarkan potensi pribadi kita. Sebagai Extrovert, pelajarilah skill privacy seorang Introvert, dan sebagai Introvert, pssssst, ada kalanya Anda juga harus belajar skill ngomong seorang Extrovert, dan berani mengungkapkan ide Anda blak- blakan! Ini bisa dilatih dan dipelajari!

Gimana? Anda merasakan ini? Anda lebih condong sebagai Extrovert atau Introvert?

About Dedy Dahlan

Passion Coach | Penulis Buku National Best Seller "Passion!", "Lakukan Dengan Hati", dan "Ini Cara Gue". Anggota International Coach Federation, Certified Practitioner MBTI dan SII Asia Pacific, dan CEO dari Inspira Asia.

View all posts by Dedy Dahlan →