Dasar Kamu, Panekuk Sirup!

Cara Lucu Menangani Marah dan Kesal

Marah itu alami. Tapi pada moment- moment tertentu – dan kebanyakan moment lainnya – marah juga TIDAK ADA gunanya. Tapi kalau lagi napsu bin emosi, ngomong “Sabaaaar sabaaaar, orang sabar disayang Tuhaaaaan”, juga nggak ada efeknya (malah kadang bikin makin napsu). Jadi gimana dong? Nah, saya punya cara pribadi yang SIMPLE BANGET, yang suka saya pakai dalam situasi itu.

Saya suka nyengir, dan lebarnya cengiran saya suka bersaing dengan lapangan bola, dan bikin dokter yang bantu saya lahir dulu bingung. “Selamat bu, anak ibu …” “Laki- laki dok?” “Bukan… nyengir…”

Pas bikin foto SIM, saya malah dimarahin polisi, “Pak, tolong jangan cengengesan kalau difoto. Tolong bibir atas dan bibir bawah ditempel jangan lepas!” dan sayapun menjawab polisi itu dengan singkat, “Baik pak”, lalu terseyum lebar.

Karena saya suka nyengir inilah, dan dalam profesi saya sebagai coach – yang berarti emotional neutrality juga sangat dibutuhkan – banyak orang yang jadi menyimpulkan kalau saya nggak pernah marah, dan pasti nggak kenal sama yang namanya napsu bin kesal.

Salah banget. Saya dengan bangga mengatakan bahwa saya, sebagai seorang manusia, seperti Anda, sesekali juga suka marah atau kesal, pada moment tertentu. And that’s fine.

Salah satu moment paling nggak penting untuk marah – bahkan membahayakan – pastinya di jalanan.

Bayangin Anda lagi jalan di trotoar setelah hujan, terus tiba- tiba ada mobil lewat di samping Anda, menggilas genangan air, dan PLAAAASHH, Anda basah kuyup… saking basah kuyupnya, kalau saat itu ada shampoo, Anda bisa jongkok sekalian keramas. Kesal! Anda pun teriak, “WOOOI GO**OK!” Dan bukannya minta maaf, dia malah ngeluarin tangan dan nunjukin jari tengah ke arah Anda dari jendelanya.

Lalu bayangin teman di sebelah Anda bilang, “Sabar sabaaarrr, jangan marah”. Makin marah nggak?

Atau bayangin Anda di jalanan menyetir mobil. Saat Anda lagi jalan dan mau belok, lampu sen sudah Anda nyalakan, tengok kiri kanan sudah Anda lakukan, di spion sudah aman, tapi tepat ketika Anda belok kiri, sebuah motor memaksa ngebut nyelip dan memotong dari sisi kiri Anda, menyerempet dan hampir menabrak mobil Anda, eeeeh, bukannya merasa salah, malah dia menoleh dengan mata yang menyalahkan Anda. “WOOOOIIII KAMPR*TTTT!” teriak Anda, ingin belok, ngebut, dan Anda kejar rasanya.

Lalu teman Anda di sebelah bilang, “Sabar sabaarrr, jangan marah”. “MUKE LU TUH JANGAN MARAH!”

Situasi kayak gini terjadi hampir setiap hari, dalam skala yang berbeda, dan mencapai puncak panennya saat arus mudik dan arus balik lebaran kemarin. Dengan padatnya motor, mobil, bus, truk, di jalanan, nyerempet itu jadi langganan, dan ucapan makian terlontar di sana sini, seakan mobil- mobil dan mtor semuanya lagi ngabsen penghuni kebun binatang. “Anjing? Hadir. Babi? Hadir. Monyet? Hadir. Kampret? Lagi izin sakit bu”.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest

Mau Tips Jitu untuk Karir dan Bisnis?

Dapatkan ebook gratis, artikel, tips, dan cara- cara membangun karir sukses sesuai Passion Anda, langsung ke email Anda!

Informasi ini tidak akan diberikan untuk pihak lain manapun