Belajar Menjadi Master Dalam Bidang dan Profesi Apapun

Tahun ini menandakan lebih dari 1 dekade sudah saya secara rutin mencekik microphone di tangan, berlari- lari di atas panggung, dan dibayar buat berbagi, ngeledekin, dan bercanda dengan bos- bos perusahaan kelas dunia, dalam profesi saya sebagai seorang trainer, coach, dan pengusaha- founder dari sebuah Training Provider.

Saya ingat bagaimana lebih dari 10 tahun lalu, saya pertama kalinya diminta mengisi sebuah acara. Acara sharing sederhana untuk mahasiswa. Hal yang kayaknya cuma ‘seuprit’ lah skala- nya dibandingkan apa yang saya lakukan hampir tiap hari saat ini. Tapi saat itu, beuuuuuuh, acara gituan doang udah cukup buat bikin saya mules, perut bertingkah kayak pengen bolak balik ke kamar mandi 18 kali, dan keringat grogi keluar sekitar 18 ember, cukup buat cuci angkot- angkot yang lagi ngetem di depan lokasi acara.

Bahkan saat di panggungnya pun, skill berceloteh saya bisa diketawain sama bocah 4 tahun yang sekarang suka ngomong “Haee gaeeees”, di YouTube. Susunan kata, intonasi, dan segalanya, berantakan abiiiiissss. Udah muka ngepas, suara cempreng, skill ngomong belepotan. Kalau nggak salah malah dulu beberapa peserta saya sampe memilih dengerin celotehan orang gila yang lagi ngereview film “Zorro” sama kucing di halaman daripada dengerin sharing saya, deh …

Tapi sekarang, bukannya sombong nih, namun hanya sedikit congkak, saya bisa berbangga hati mengatakan bahwa skill saya dalam public speaking dan sebagai trainer sudah seperti langit dan bumi dengan pada saat itu.

Bisakah saya disebut master? Entahlah. Tapi kalau saya boleh bangga sedikit, ya, saya pikir setidaknya saya sudah memiliki kepercayaan diri yang mendekati level tersebut.

Melatih Skill Menjadi Master dalam Passion

Apa yang membedakan skill saya pada saat itu dengan saat ini?

Sederhana. Banget.

10 tahun praktek nyata. 10 tahun berlatih secara rutin. 10 tahun mengulangi hal yang sama, lagi dan lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi, dannnnnn lagi. Dan terus belajar dan mengembangkan skill yang sama setiap kalinya.

Setiap saya naik panggung, saya berlatih. Setiap saya turun panggung, saya mengambil satu hal yang saya dapat dari sesi itu ke rumah, bagus ataupun jelek, saya bawa ke depan kaca, dimana saya mencoba mengulangi hal yang sama, bikin istri saya bingung, dan sedikit terganggu mungkin, ngeliat suaminya kerjaannya ngomong sambil megang sisir pura- pura microphone di depan kaca.

“Narsis banget sih”, kata istri saya, yang nggak bisa ngaca karena kacanya saya monopoli. “Biarin, hashtag narsis itu perlu”, kata saya. “Tapi aku nggak bisa ngaca nih”, kata dia protes. “Ga usah, udah cakep kok”, alasan saya padanya untuk tetap memonopoli cermin di kamar.Di kesempatan tampil berikutnya, saya menggunakan pengalaman dari sebelumnya, dan menerapkannya lebih baik lagi.

Dan seiring waktu, saya pelan- pelan menyadari semua mulai berubah.

  • Suara dan interaksi penonton semakin riuh dari hari ke hari.
  • Joke, dan humor, makin tajam dan makin mendapat respon.
  • Interaksi spontan makin mudah saya lakukan.
  • Menghadapi audience sulit semakin gampang dan natural.
  • Materi training dan informasi makin lebih mereka terima dan pahami.
  • Menghabiskan waktu 6 jam semakin tidak terasa.
  • Waktu persiapan saya untuk materi sulit semakin berkurang.
Malcolm Gladwell mengatakan dalam “Outlier” bahwa 10.000 jam latihan akan membuat seseorang menjadi master. Saya akan menyederhanakan prinsip itu dengan kalimat sederhana, bahwa:

Pin It on Pinterest

Mau Tips Jitu untuk Karir dan Bisnis?

Dapatkan ebook gratis, artikel, tips, dan cara- cara membangun karir sukses sesuai Passion Anda, langsung ke email Anda!

Informasi ini tidak akan diberikan untuk pihak lain manapun