7 Saran Bisnis Yang Harus Kamu Abaikan Saat Mulai

7 Saran bisnis yang harus diabaikan, tips dan trik, saran bisnis yang harus diabaikan untuk pebisnis baru. cara bisnis untuk pemula, dan bagaimana memulai usaha untuk mahasiswa

Rasanya kemanapun saya pergi dan siapapun yang saya ajak ngobrol, mulai dari peserta seminar/ training saya, sesama penumpang di pesawat, sampai orang asing yang saya sapa sambil nunggu makan siang, semuanya punya dream, nanya saran bisnis, dan keinginan untuk mencoba berbisnis sendiri.

Nggak semua orang ini pada akhirnya betul- betul berhasil punya bisnis. Jangankan ‘punya’, sedikit sekali bahkan yang berhasil ‘memulai’ dan mempertahankan bisnisnya melewati beberapa minggu saja. Alasannya? Lebih buanyaak daripada jumlah jerawat di wajah ABG baru ‘beger’ yang doyan makan kacang.

Mulai dari ga ada modal (alasan favorit pemirsa), ga ada produk, takut gagal, takut rugi, ga ngerti bisnis, ga punya tempat, kurang cakep (lho, apa hubungannya?), dan berjibun alasan lainnya.

Saya ga bilang bahwa alasan- alasan ini ga valid. Tapi alasan- alasan ini sebenarnya BISA dilewati hanya dengan sedikit usaha, segenggam niat, dan sejumput rasa nggak tahu malu. Karena alasan- alasan ini, ironinya, kadang muncul dari ‘SARAN’ yang diberikan atau didengar oleh para calon pengusaha ini.

‘Saran bisnis’ yang ironinya, malah bikin api dalam hati mereka meredup, dan ‘pettt’. Punah sama sekali.

Saran Bisnis Yang Harus Anda Abaikan!

Saya memulai langkah saya dalam dunia bisnis dair sebuah toko mainan saat duduk bangku kuliah. Lalu berkembang jadi property, mencoba langkah dalam dunia kuliner, sebelum akhirnya memijak dalam dunia bisnis Training Provider dan agensi Digital.

Dari pengalaman saya, walau beberapa saran bisnis di bawah ini sebenarnya BAGUS dalam menjalankan bisnis, tapi ada baiknya, justru Anda ABAIKAN saat memulai langkah pertama bisnis! Karena saran- saran ini bisa bikin takut, bikin bingung, atau malah memberi persepsi yang salah tentang usaha Anda.

7 saran bisnis yang sebaiknya Anda abaikan saat baru mau mulai adalah:

1. Jangan Berbisnis dari Passion

Beberapa orang memulai bisnisnya dari kebutuhan market. Beberapa mulai dari adanya jaringan ke konsumen atau klien. Beberapa memilih dan memulai bisnisnya dari Passion dan apa yang memberi makna dalam hidupnya. Semua ini adalah pilihan.

Tapi ada juga beberapa yang mencoba menahan Anda untuk ‘jangan bisnis’, karena mereka ga yakin kalau Anda bisa menghasilkan uang dari apa yang Anda suka.

Ini adalah saran terburuk yang pernah saya temui. “Passion kamu ga bisa menghasilkan uang”, adalah alibi mereka yang ga berani keluar dari pekerjaannya untuk mencoba minatnya. Banyak cara sebenarnya untuk memulai usaha dari passion, baik menyelaraskan minat dengan market, ataupun menemukan klien di bidang hobinya.

Kalau Anda ingin memulai bisnis, kenapa ga sekalian aja lakukan yang bisa Anda nikmati? Dengan begini, Anda akan lebih punya motivasi untuk terus melakukannya.

2. Harus punya ‘perfect’ Business Plan

Business Plan adalah sesuatu yang dibutuhkan untuk mengembangkan bisnis dan memastikan bisnis Anda memiliki arah yang jelas, supaya tidak simpang siur dan tersesat di tengah jalan nantinya. Business Plan juga memastikan Anda punya bayangan soal angka, modal, target, hingga market yang jelas.

Selain itu, Business Plan sangat penting untuk mendapatkan investor yang berkenan ikut serta dalam usaha Anda sebagai rekan atau penanam modal.

Oh, dan ngomong- ngomong, Business Plan ‘sempurna’ juga adalah hal yang paling nggak berguna untuk dibuat dan disiapkan sebelum memulai usaha Anda.

Alasannya, karena Anda belum tahu persis cakupan, biaya operasional real, biaya total, margin, revenue, bahkan siapa market Anda nantinya. Anda masih meraba- raba dengan 80- 90% kemungkinan meleset. Dan pada akhirnya, ini cuma bakal bikin Anda bingung dan menunda- nunda.

Bikin Business Plan SETELAH usaha Anda berjalan dan Anda punya data yang faktual dan real dari lapangan. Bukan sebelum memulai usaha Anda.

3. Kumpulkan modal awal dulu

Kalau ada penghargaan buat ‘alibi’ favorit orang buat belum mulai berbisnis, itu pasti alibi yang satu ini. “Ga ada modalnya ooommmm”.

Memang untuk sebagian jenis usaha, Anda perlu sedikit modal. Tapi seringkali dari pengalaman saya dan siswa- siswa saya di Passion Academy, sebagian besar orang selalu menunggu modal terkumpul dalam jumlah yang terlalu besar dari yang SEBENARNYA dia butuhkan!

Berapa modal yang dibutuhkan? Sudah tahu belum? Belum tahu kok nunggu? Nunggu sampe berapa? Dan yang namanya nunggu modal kekumpul itu mirip kayak nunggu dikecengin supermodel. Ga akan beres- beres!

Mulai dari modal yang ada, kumpulkan hanya ‘secukupnya’, dan mulai dari klien atau konsumen dulu, lalu tanpa menunggu kondisi modal ‘ideal’, langsung mulai aja!

4. Produk baru yang belum ada

Beberapa orang menyarankan untuk mulai berbisnis dengan produk baru ‘yang belum ada’ di pasara. Beberapa orang yang mau mulai berbisnis juga nyali dan rasa percaya dirinya suka langsung ciut gemerecut seperti balon bocor saat tahu bahwa idenya udah ada di pasaran.

Konon, “Mau bisnis itu ide produknya harus baru nyoss! Cling cling belum ada yang bikiiin!”

Oh alangkah salahnya saran ini. Hampir semua ide dan produk yang bisa Anda bayangkan SUDAH ADA di pasaran. Ini faktanya. Ide kita seringkali bukan satu- satunya ide yang ada! Dan ide baru bukan berarti menjamin kesuksesan produk itu sendiri!

Ide Anda bisa jadi bukan ide baru, tapi apa beda Anda dengan produk yang sudah ada? Apa value lebihnya? Apa keunikannya? Apa prosesnya berbeda? Ini semua yang akan menentukan keunggulan kompetitif Anda.

Kalau ide Anda baru, justru harus agak khawatir. Jangan- jangan ide produk ini ga ada pembelinya?

Cara memulai bisnis baru dan saran bisnis yang harus diabaikan saat memulai bisnis, dan ide bisnis yang menarik untuk dijual
Jangan berhenti hanya karena ide produk Anda sudah ada yang punya!

5. Berpikir Sebesar- besarnya

Berpikir soal target seeeeeeebeesar- besarnya adalah hal yang bagus untuk memastikan tujuan kita jelas.

Tapi di awal bisnis, berpikir seeeeeeeeebesar- besarnya ini malah bisa jadi distraction, pengalihan, bikin gagal fokus, dan malah ga jalan- jalan.

Menetapkan target yang terlalu besar dari kapasitas dan kemampuan kita saat ini bisa bikin kita malah ketakutan, memikirkan resiko, sibuk dengan Business Plan, dan sibuk menghitung harus menabung berapa sebelum berani mulai.

Pada akhirnya, di awal memulai, pastikan Anda lebih fokus pada melayani konsumen yang ada di depan Anda saat ini dulu, dan memastikan Anda memahami ritme operasional usaha terlebih dulu, sebelum mikir kemana- mana.

6. Ikuti kemauan konsumen

‘Konsumen adalah raja’. Dan pada saat yang sama, ‘raja ga selalu tahu yang dia mau’.

Konsumen seringkali memberi tahu Anda apa yang dia inginkan. Dan saya ga bilang bahwa Anda ga boleh mendengarkan konsumen, karena seringkali konsumen punya input yang berharga untuk bisnis dan pengembangan produk Anda.

Tapi pada saat yang sama, konsumen juga banyak jenisnya, macamnya, seleranya, dan level pengetahuannya. Mencoba mendengarkan SELURUH masukan konsumen bakal (dijamin) bikin Anda pusing 21 keliling, karena yang satu bakal memberi saran berbeda dari yang lainnya.

Di produk pempek istri saya dulu, ada konsumen yang bilang “Cuko-nya terlalu pedas”, dan ada yang bilang “Cuko- nya kurang pedas”. Nah lho. Gimana kalo Anda mau ngikutin semua konsumen. Bingung kan?

Pada akhirnya, keputusan kembali di tangan Anda. Apa yang mau Anda buat? Apa target Anda? Apa niche Anda? Dengarkan saran konsumen sebagai input, tapi putuskan keputusan akhirnya sendiri!

7. Jangan resign (atau buruan resign)

Soal ini ada dua jenis saran ekstrim. Yang satu bilang, “Jangan resign”, yang satunya bilang, “Buruan resign”. Dua- duanya bukan saran yang baik untuk diikuti.

Bisnis adalah permainan yang bukan ilmu pasti. Anda bisa bikin satu bisnis langsung mapan, Anda bisa bikin 3 bisnis baru berhasil di bisnis ketiga, dan Anda bisa jatuh bangun selama lebih dari 10 tahun dalam usaha Anda.

Jadi pekerjaan harian Anda dibutuhkan untuk membantu dapur Anda tetap ngebul saat Anda mencoba menjejakkan kaki di bumi pertiwi entrepreneurship. Terburu- buru resign akan membahayakan keamanan finansial Anda, yang pada akhirnya bikin Anda takut berbisnis lagi.

Pada saat yang sama, ada juga yang udah kelamaan bisnis berjalan, dan dia ga resign- resign juga. Entah terlalu ‘pewe’, atau dia ngecengin sekretaris bosnya di kantor.

Buat saya, saat memulai bisnis, pertahankan pekerjaan rutin Anda untuk ketenangan hati. Tapi ada waktunya, di saat bisnis Anda mulai stabil dan mulai bisa menutupi apa yang Anda dapatkan dari kantor, untuk Anda resign, dan FOKUS pada bisnis Anda.

Perhatikan tanda- tanda seperti situasi finansial, klien yang bertambah, dan berkurangnya motivasi Anda di kantor lama dibandingkan usaha baru Anda.

Apapun Itu, Mulai Sekarang Juga!

Itulah 7 saran yang umum Anda temukan di dunia bisnis yang perlu Anda abaikan di awal- awal usaha Anda memulai bisnis Anda sendiri.

Kalau seluruh pengalaman saya memberi satu nasihat terpenting buat saya, seringkali adalah bahwa memulai bisnis, baik untuk Anda pegawa, ibu rumah tangga, atau usaha untuk mahasiswa, adalah sesuatu yang nggak perlu ditunda- tunda.

Apapun bisnis dan minat yang mau Anda mulai, mulailah sekarang juga! Keep on passionate!

About Dedy Dahlan

Passion Coach | Penulis Buku National Best Seller "Passion!", "Lakukan Dengan Hati", dan "Ini Cara Gue". Anggota International Coach Federation, Certified Practitioner MBTI dan SII Asia Pacific, dan CEO dari Inspira Asia.

View all posts by Dedy Dahlan →