Pemimpin di Kursi Depan

0

Di sebagian besar kelas, seminar, workshop, sampai training yang saya amati, di depan siapapun – dari siswa, mahasiswa, karyawan, manager, sampai pengusaha – ada satu kesamaan yang saya lihat sering terjadi, nggak perduli dimanapun event itu dilaksanakan.

Yang namanya kursi depan, dan bukan cuma satu dua kursi saja, tapi seluruh barisan kursi depan, malah sampai satu atau dua barisan kursi di belakangnya nggak laku! Sampai udah diobral cuci gudang, dengan om om kumis joget dangdut untuk menarik massa pun, masih susah lakunya. Dianggurin, dengan cuma satu dua orang saja yang duduk mentereng dengan seksinya di situ.

Dengan pikiran saya yang suka liar dan berkelana terlalu bebas, saya jadi mikir, ada apa gerangan dengan kursi- kursi yang ada di barisan depan, sampai orang kayaknya takut banget buat duduk di kursi depan? Dan setelah riset seperlunya atas hal yang nggak perlu ini, dengan memakai jas lab supaya terkesan risetnya ilmiah, dan mengelus- elus janggut satpam kantor supaya terkesan berpikir serius (karena saya nggak punya janggut), saya menyimpulkan ada 5 hal utama yang mungkin menyebabkan orang ogah duduk di depan.

1. Takut kena muncrat sang pembicara, sehingga dia jadi kepaksa keramas, padahal nggak bawa shampoo.

2. Takut pembicaranya baru makan tumis pete bawang dengan jus jengkol, sehingga aromanya bakal cukup semerbak.

3. Takut jatuh cinta sama pembicaranya.

4. Takut disangka imam shalat, soalnya kalau imam baca doa salah kan nanti diketawain di TV.

5. Takut tabrakan, karena kalau di mobil, terus ada tabrakan kan yang duduk di depan kena duluan.

Bener ga asumsi ilmiah saya?

Baca Juga  Jejak Apa Yang Kamu Tinggalkan?

Butjokes aside, fenomena nggak mau duduk di depan ini BENERAN ada, yang entah kenapa, banyak orang, mungkin termasuk kita, suka menghindar dengan seribu alasan untuk duduk di depan.

Ada semacam budaya dan kebiasaan tentang kursi depan, yang sudah terbentuk mungkin sejak SD, yang bikin kita ragu untuk duduk di depan. Misalnya, waktu SD, yang duduk di depan akan diperhatikan penuh oleh gurunya, dan ketika disuruh ngerjain PR, bakal kena duluan. Lalu pas SMP, yang duduk di depan biasanya adalah para ‘kutu buku kelas’, dan ‘saya’ bukan. SMA dan kuliah, yang duduk di depan nggak bisa lirik cewek kiri kanan dan ga bisa nyontek, dan saat kerja, kursi depan biasanya, walau nggak selalu, disiapkan untuk atasan.

Katanya, ‘Tempat duduk menentukan prestasi’. Ini alasan mereka untuk nggak mau duduk di kursi depan. Dan kalimat ini sebenarnya BETUL. Tapi sayangnya, yang duduk di depanlah yang AKAN berprestasi!

Kok bisa? Karena ada misteri kekuatan yang muncul dari membiasakan duduk di kursi depan!

Saya merasakan sendiri efek misterius dari kursi depan bertahun- tahun lalu, ketika saya pertama kalinya bertemu mentor saya yang dari USA, di sebuah seminar. Saking hotnya pada materi yang diberikan, saya mencoba melawan rasa ‘malas dan takut’ saya, dan duduk di barisan paling depan di forum besar untuk pertama kalinya.

Deg- degan ada, perasaan nggak nyaman karena tidak terbiasa ada, sensasi ngeri ketika beradu pandang dengan pembicara ada, dan ‘kecipratan’ sedikit mungkin ada. Tapi ada beberapa perubahan MINDSET dan ATTITUDE yang terjadi setelah saya berani dan membiasakan diri duduk di kursi depan.

Baca Juga  Solopreneur: 1 Bos vs 1000 Mini Bos

1. Peningkatan self awareness dan konsentrasi.

2. Kemampuan kritis dan menangkap materi lebih baik.

3. Munculnya rasa percaya diri.

4. Munculnya keinginan memimpin dan attitude leadership.

5. Dorongan untuk senantiasa action.

Masa iya sih, perubahan ini bisa terjadi hanya dengan membiasakan diri duduk di kursi depan?

Jawabannya adalah YA!

Nggak percaya sama saya? Silahkan coba sendiri. Pada event- event kelas, seminar, dan training berikutnya, duduk di barisan yang paling depan yang Anda bisa, dan rasakan efeknya pada diri Anda.

Here’s a question for you.

Seseorang duduk di depan karena dia adalah pemimpin, atau karena dia duduk di depan diapun menjadi seorang pemimpin?


Share.

About Author

Passion Coach | Penulis Buku National Best Seller "Passion!", "Lakukan Dengan Hati", dan "Ini Cara Gue". Anggota International Coach Federation, Certified Practitioner MBTI dan SII Asia Pacific, dan CEO dari Inspira Asia.

Mau Tips Jitu untuk Karir dan Bisnis?

Dapatkan ebook gratis, artikel, tips, dan cara- cara membangun karir sukses sesuai Passion Anda, langsung ke email Anda!

Informasi ini tidak akan diberikan untuk pihak lain manapun