Cahaya Penyelamat

0

Berikut adalah sebuah kisah nyata.

Ada seorang anak yang katakanlah, namanya Budi. Budi adalah mahasiswa di salah satu Universitas di Indonesia. Seperti mahasiswa lainnya, Budi aktif berangkat ke kampus pagi- pagi dari asramanya untuk kuliah, dan pulang sore hari. Dia juga rajin mengerjakan tugas seperti mahasiswa pada umumnya.

Tapi yang berbeda dari Budi, adalah bahwa dia memiliki sedikit kondisi mental, yang membuat dia ‘berbeda’ dari anak- anak lainnya, dan membuatnya tidak MAMPU mengikuti pelajaran.

Kondisi yang oleh teman- temannya disebut ‘keterbelakangan mental’ ini bikin Budi jadi anak aneh. Dan ulah Budi yang muncul sebagai akibat kondisinya inipun jadi bikin gemes, kesel, geregetan, bahkan bikin takut semua orang, dari teman- temannya, dosennya, administrasi kampusnya, sampai para penjual makanan di kantin.

Misalnya saja, Budi suka ngomong sendiri di kelas, di tengah- tengah pelajaran, dan saat dosennya sedang mengajar. Seringkali, dia akan mengeraskan suaranya, sampai taraf berteriak, masih di tengah pelajaran dosennya, bikin semua orang di kelasnya terganggu. Dan ini susah dihentikan.

Budi juga suka nimbrung ngomong yang nggak nyambung kapanpun dia mau. Nggak perlu ada pemancing, atau nggak perlu ada masalah. Dia akan bicara nggak nyambung, dan mengulangi hal yang sama itu berulang- ulang, dengan suara yang volumenya makin meningkat.

Saat ada tugas, Budi akan mendatangi semua orang, dari satpam sampai pegawai IT dan dosen; memasuki semua ruangan tanpa mengetuk pintu, dari ruangan dosen, ruangan kelas lain, sampai perpustakaan atau bahkan ruang REKTOR, untuk meminta mereka membantunya mengerjakan tugas yang belum dia pahami! (Dan biasanya, dia tidak memahami hampir semua tugas).

Tapi anehnya, kalau temannya mencoba membantu, dia hanya akan ngotot semau ‘dewe’, dan malah temannya ini dimarahin, bahkan nggak jarang, dibentak atau dimaki sama dia. Ini membuat Budi tidak mampu berkembang dalam pelajaran kuliahnya.

Baca Juga  Alasan Untuk Jatuh Cinta

Bahkan dia juga pernah mematikan semua lampu kamar mandi di asramanya, pada malam hari, dan pada saat ada orang di dalam kamar mandi- kamar mandi itu, karena dia baru saja mendengar tentang Green Planet dan pengiritan energi.

Ulah Budi jelas bikin semua orang sebal, beberapa bahkan sampai emosi. Dan mereka mengadukan dirinya ke kampus, yang kemudian merasa perlu diambil tindakan, untuk kebaikan bersama. Apalagi karena Budi, dengan kondisinya, masih saja TIDAK DAPAT menerima atau mengikuti pelajaran di kampusnya.

Kampus pun memanggil orang tua Budi.

Saat berbicara dengan orang tua Budi, terungkap fakta bahwa kondisi Budi sebenarnya dipahami betul oleh orang tuanya.

Tapi fakta yang paling PENTING, menurut saya, adalah bahwa menurut ibunya, dibalik kondisinya itu, Budi sesungguhnya SUKA, punya MINAT, dan bahkan punya BAKAT dalam bidang MEMASAK!

Ini suatu petunjuk PASSION!

Ini mungkin adalah PENYELAMAT NYA, yang bisa membantunya dapat kembali bekerja dengan NORMAL!

Ini mungkin bahkan adalah bidang yang bisa membantunya SUKSES!

Tapi apa yang terjadi? Kenapa Budi tidak dibiarkan saja menggali passionnya dalam memasak? Kenapa dia tidak dikirim ke sekolah memasak, dan dibiarkan berkembang sesuai hasratnya? Kenapa dia dipaksa ke kampus teknologi, ketika dia tidak mau, dan kondisinya membuatnya tidak mampu, bahkan dengan mengacuhkan satu- satunya cahaya yang ditunjukkannya?

Ternyata, alasan Budi tidak diizinkan memasak, adalah HANYA karena ayahnya menganggap, seorang pria TIDAK PANTAS berada di dapur…

Karena alasan remeh dan dari pandangan kuno itu, satu- satunya cahaya penyelamat yang bisa membantu Budi dirampas dari hidupnya!

Apakah ayahnya tidak pernah mendengar nama Gordon Ramsay, chef kelas dunia yang seorang pria? Atau Joe Bastianich? Atau Jamie Oliver? atau Bara Pattiradjawane? Atau siapapun chef terbesar dunia yang semuanya pria?

Baca Juga  Berani Mencoba Hal Baru!

Entahlah. Tapi saat Budi dibawa pulang kembali ke kampungnya oleh orang tuanya, entah untuk didekamkan saja di rumahnya, atau disekolahkan di sekolah teknik lainnya disana, saya terus berharap…

“Semoga suatu hari, Budi akan dibiarkan memasak dan belajar memasak. Semoga, suatu hari Budi akan diizinkan mengembangkan PASSION nya, yang mungkin merupakan satu- satunya cahaya penyelamatnya. Dan saya berharap, suatu hari saya akan melihat Budi di TV, dengan panci dan pisau di tangannya”.

Bagaimana dengan Anda? Apa cahaya penyelamat Anda? Dan apa yang MENGHALANGI Anda?


Share.

About Author

Passion Coach | Penulis Buku National Best Seller "Passion!", "Lakukan Dengan Hati", dan "Ini Cara Gue". Anggota International Coach Federation, Certified Practitioner MBTI dan SII Asia Pacific, dan CEO dari Inspira Asia.

Mau Tips Jitu untuk Karir dan Bisnis?

Dapatkan ebook gratis, artikel, tips, dan cara- cara membangun karir sukses sesuai Passion Anda, langsung ke email Anda!

Informasi ini tidak akan diberikan untuk pihak lain manapun