Kisah berikut bukan kisah asli karangan saya.
Kisah ini terinspirasi dari sebuah kisah lama yang pernah saya dengar sebelumnya, dan saya lupa dari mana. Tapi dalam kesempatan ini saya mau membagi kisah ini pada Anda para pembaca situs saya, tentu dengan penambahan, penyesuaian, dan perubahan di sana sini, dan diceritakan dalam versi saya sendiri.
Zaman sekarang, kebanyakan orang sudah terlalu serius. Lihat saja ke kiri dan kanan Anda, semua orang tampak serius. Anak- anak sejak kecil sudah terlalu serius. Wajahnya serius. Yang dibicarakan serius. Status Facebook dan Twitternya sok serius. Atau kalo anak alay mungkin menulisnya “53R1u5″. Bahkan jadwal yang diberikan oleh orang tuanya pun terlalu serius.
Bayangkan, setelah menempuh jadwal sekolah yang full, mereka harus langsung kursus. Setelah kursus, mereka harus les. Setelah les, mereka harus bikin PR, dan setelah bikin PR, mereka harus membaca mata pelajaran untuk besok, sebelum tidur cepat untuk bisa bersekolah besok. Dan rutinitas ini pun berlangsung setiap hari, sampai mereka jarang mengembangkan hobi.
Yang lebih bahaya, adalah isi pembicaraan semua orang pun agar nampak serius harus membahas isu populer. Isi berita, isi gosip, isu- isu populer, kesannya harus dibahas oleh semua orang, tanpa memikirkan lebih jauh, seberapa pentingnyakah isu populer itu pada dirinya sesungguhnya.
Pokoknya yang penting, Anda tampak serius. Tampak sibuk. Dan tampak tahu isu remeh yang sedang beredar.
Seorang guru di sebuah sekolah ingin mengingatkan murid- muridnya untuk tidak terlalu serius, dan tidak mendahulukan hal- hal yang remeh dalam hidup mereka.
Ia datang ke kelas membawa sebuah toples yang sangat besar, dan beberapa batu karang besar. Ia memasukkan batu- batu karang besar itu ke dalam toples hingga penuh, lalu ia bertanya pada murid- muridnya.
“Apakah toples ini sudah penuh? Apa tidak bisa saya tambahkan isinya lagi?”
“Sudah”, jawab murid- muridnya. “Tidak bisa bu guru.”
Lalu ia memasukkan batu- batu kerikil ke dalam toples itu, yang ternyata masih bisa masuk lewat celah- celah batu karang besar tadi. Hingga tidak bisa ada kerikil masuk lagi. Dan bertanya lagi.
“Apa sekarang sudah penuh? Apa tidak bisa ditambah isinya lagi?”
“Sudah”, jawab murid- muridnya lagi. “Tidak bisa bu guru.”
Lalu ia memasukkan pasir halus, yang ternyata masih juga bisa masuk ke dalam toples itu lewat celah antara batu karang dan batu kerikil tadi. Lalu ia bertanya lagi.
“Apa sekarang sudah penuh? Apa tidak bisa ditambah isinya lagi?”
“Sudah”, jawab murid- muridnya lagi. “Yakin tidak bisa bu guru.”
Lalu ia mengambil segelas susu coklat miliknya, dan menuangkannya ke dalam toples, yang ternyata masih juga bisa masuk dan diserap oleh pasir tadi.
Dia tersenyum, memandang murid- muridnya yang bengong dan melongo, entah karena kagum atau bingung.
“Nah murid- murid, toples ini adalah hidup kalian. Karang besar adalah masalah besar, dan kerikil serta pasir adalah masalah kecil. Dengan terlebih dahulu memasukkan masalah besar, saya masih selalu bisa menyelipkan masalah kecil belakangan. Tapi kalau sejak awal saya memasukkan masalah kecil ke dalam diri saya, maka masalah besar tidak akan bisa muat ke dalam toples dan tidak akan bisa saya selesaikan. Paham?”
“Paham buuuu.” Kata murid- muridnya. “Tapi bu, lalu apa arti susu coklat terakhir tadi?”
Sang guru tersenyum dan menjawab, “Artinya, sesibuk dan sepenuh apapun kegiatan dan masalah yang sedang kita tangani, selalu ada waktu untuk sedikit ENJOY dalam hidup kita.”


