Banyak orang yang sangat pede dengan skill atau produknya, dengan titel dan ilmunya, dengan pengetahuan dan pengalamannya, hingga mereka dengan membusungkan dada dan mengangkat dagu berkata.
“Saya hebat dan saya tahu saya hebat. Saya akan besar karena diri saya, dan ilmu saya. Karena Anda tahu, di bidang saya, sayalah yang terhebat.”
Ini membuat mereka kemudian bertanya dan bersikap, “Buat apa Soft Skill? Karena kalau Anda mau objektif, Anda tahu sayalah yang terbaik.”
Dan dalam hal ini, maka mereka telah mengutuk diri mereka sendiri untuk gagal!
So, kali ini, saya bukan akan memberi sebuah tips soft skill, saya akan menjelaskan pada Anda, apa sebenarnya pentingnya soft skill.
Terhadap situasi di atas, bisa jadi mereka benar, bahwa mereka yang terbaik. Tapi lalu apa? Lalu bagaimana? Apa gunanya mereka menjadi yang terbaik kalau TIDAK ADA yang mau membantu mereka dalam mengembangkan ilmu, skill, dan pengetahuan itu? Mungkin mereka benar, bahwa kalau mau objektif, merekalah yang seharusnya mendapat ketenaran, mendapat popularitas, dapat proyek besar, dan sebagainya.
Tapi masalahnya, dunia ini memang BUKAN dunia yang objektif.
Ini adalah dunia subjektif.
Kita memilih orang untuk suatu posisi bukan hanya karena nilai, skill, atau aspek objektif lainnya. Jujurlah, kita lebih sering memilih orang karena aspek subjektifnya. Aspek subjektif seperti tingkat kepercayaan kita pada orang itu, bagaimana kita mengenal orang itu, hingga bagaimana kita menyukai orang itu, biasanya hadir sebelum mempertimbangkan aspek objektif lainnya. Apalagi ketika kita diminta membantu seseorang, aspek subjektiflah yang lebih sering kita gunakan sebagai bahan pertimbangan.
Dan dalam hidup, kita selalu membutuhkan orang lain untuk sukses. Kita butuh supir taxi untuk sampai ke kantor. Kita membutuhkan pelayan untuk membawakan makan siang kita. Kita membutuhkan sekretaris untuk mengurus pekerjaan kita. Kita butuh dokter. Kita butuh atasan. Kita butuh investor. Dan sebagainya.
Bayangkan, bila SEMUA orang ini tidak mau membantu kita karena kita tidak bisa mengambil hati mereka.
Jadi dengan situasi ini, orang yang TIDAK disukai, akan mengalami kesulitan mendapatkan, atau paling tidak, MEMPERTAHANKAN suatu karir.
Inilah guna soft skill.
Kemampuan dalam berkomunikasi akan membuat Anda dapat lebih diterima dan disukai oleh lingkungan, dan khususnya orang- orang yang tepat dalam bidang Anda, dan dimanapun.
Kemampuan soft skill akan melengkapi skill dan ilmu yang sudah Anda miliki dalam melontarkan Anda menuju kesuksesan.
Belajarlah seni berkomunikasi dan bergaul, maka Anda akan menjadi orang yang DITERIMA, DIUNDANG, dan DIBANTU di mana- mana.


