Semua orang suka didengar, sedikit yang suka mendengar.
Berbicara dan bercerita membuat kita merasa penting, dan karenanya ‘didengar’ bisa dibilang jadi sebuah kebutuhan, baik dalam pembicaraan personal ataupun dalam pertemuan keluarga atau organisasi. Tapi sebaliknya, mendengarkan nggak semudah itu, karena mendengarkan yang benar- benar mendengarkan – bukan asal ngeliat muka si pembicara sambil ngangguk- ngangguk – butuh kesabaran kita dan ketertarikan kita.
Nggak percaya? Cobalah ngobrol sama orang yang menurut anda membosankan. Dengerin dia berbicara dan bercerita, tanpa sekalipun anda menyela dan mencoba gantian bicara.
Berapa lama anda bisa mendengarkan dengan antusias sebelum pikiran anda teralih kemana- mana? Atau sebelum anda mencoba ‘gantian’ berbicara?
Dan karena fakta inilah, kenapa seni mendengar jadi sangat penting buat kita gunakan dalam hidup dan bisnis. Khususnya dalam presentasi, dalam negosiasi, atau mencari relasi. Karena, catet… “lawan bicara anda suka didengar.”
Anda nggak suka kan, kalau ada salesman datang dan nyerocos tanpa lebih dulu ngedengerin kebutuhan dan kisah anda?
Inilah perlunya seni mendengarkan.
Dengan mendengarkan lawan bicara, beberapa hal akan terjadi:
- Kita lebih simpatik dan bahkan empatik pada lawan bicara.
- Kita terlihat lebih menarik (karena ‘tertarik’ padanya) di mata lawan bicara.
- Kita mengumpulkan informasi yang kita butuhkan untuk lebih akurat mengenal lawan bicara (yang pada akhirnya membantu kita ‘menjual’ sesuai kebutuhannya)
- Kita melatih kesabaran dan pengendalian diri, yang akan melahirkan kendali dalam kata- kata.
Jadi pada kesempatan berikutnya anda bercakap- cakap atau melakukan negosiasi dengan orang, latihlah kemampuan mendengar anda.
Semua orang bisa bicara. Kita harus jadi orang yang bisa bicara, DAN mendengar.


